MAUDY LATANIA HANDYANTI HAFIS

Berpacu Menjadi Yang Terbaik

Artikel Populer

Keunikan Budaya Khas Kotabaru

diposting oleh maudy-latania-fib13 pada 18 March 2014
di Maudy Latania - 0 komentar

    Saya akan menjelaskan kebudayaan di Kalimantan Selatan tepatnya di Pulau Laut Kabupaten Kotabaru. Pulau Laut didiami oleh Suku Banjar, Bugis, Mandar, Bajau, Dayak Bukit, Dayak Samihim, Jawa, Tionghoa dan memiliki kurang lebih dua puluh satu tempat wisata.
    Menurut saya sangat banyak kebudayaan di Kotabaru dan mungkin banyak orang yang bertanya-tanya, bagaimana sebuah pulau kecil bisa memiliki banyak kebudayaan? Saya akan membagikan kepada anda dua kebudayaan yang berasal dari Kotabaru.
    Kebudayaan yang nyaris tidak diketahui masyarakat adalah Budaya Macceratasi. Budaya Macceratasi adalah upacara adat suku Bugis berupa pesta adat dengan menumpahkan darah hewan tumbal ke laut yang akan selalu digelar di Pantai Gedambaan, Desa Gedambaan, Pulau Laut Utara, Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Pesta adat Macceratasi merupakan kebiasaan nelayan untuk menumpahkan darah hewan kepada laut, yang telah dilakukan sejak turun temurun, namun sampai saat ini pesta tersebut nyaris tidak diketahui oleh masyarakat luas. Menumpahkan darah hewan ke laut tersebut, mereka berharap laut dapat memberi penghidupan di darat. Keistimewaan upacara adat Macceratasi dilaksanakan selama dua hari. Wisatawan dapat mengikuti rentetan acara mulai dari upacara Tampung Tawar, penyembelihan hewan, pelepasan berbagai macam sajian ke laut, hingga hiburan berupa kesenian dan beladiri tradisional
    Pada hari pertama, sebelum ritual inti yakni menyembelih dan menumpahkan darah hewan ke laut, masyarakat setempat dipimpin oleh seorang tokoh adat mengadakan upacara Tampung Tawar, yaitu upacara memanjatkan doa kepada Tuhan. Dalam prosesi ini, seorang tokoh adat memimpin doa dengan duduk di antara sesaji yang terdiri dari berbagai bahan pokok mentah seperti beras, kelapa, gula, ayam yang masih hidup, dan air kembang. Setelah doa selesai, tokoh adat akan memercik-mercikkan air kembang kepada khalayak yang hadir sebagai simbol memohon berkah dan keselamatan. Upacara kemudian dilanjutkan dengan menyembelih hewan, antara lain kerbau, kambing, dan ayam. Darah dari hewan-hewan ini ditampung untuk kemudian ditumpahkan ke laut, sementara dagingnya dibagikan kepada masyarakat yang menghadiri upacara. Usai menumpahkan darah ketiga hewan tersebut, upacara dilanjutkan dengan hiburan berupa kesenian dan beladiri tradisional, seperti hadrah, pencak silat, dan meniti di atas seutas tali. Salah satu hiburan yang cukup digemari oleh masyarakat setempat adalah atraksi meniti di atas tali yang biasa dipertunjukkan oleh anggota masyarakat dari suku Bajau. Dalam atraksi ini, salah seorang anggota suku Bajau akan mempertontonkan kebolehannya meniti seutas tali yang diikatkan di antara dua buah kayu atau pohon di tepi pantai. Orang tersebut akan menunjukkan kemahirannya mengatur keseimbangan sembari memeragakan gerakan silat, menari, atau tiduran di atas tali.
    Pada hari kedua, dilakukan ritual melepas miniatur bagang, yaitu perangkat menangkap ikan berupa jaring yang dipasang di antara bambu-bambu penyangga di tengah laut. Di dalam miniatur bagang ini diletakkan berbagai makanan yang sudah matang untuk dilarung ke laut. Pelepasan bagang ini juga merupakan ungkapan terima kasih akan karunia Tuhan yang telah memberikan kekayaan laut yang melimpah. Selain mengikuti rangkaian Upacara Adat Macceratasi, wisatawan juga dapat menikmati panorama Pantai Gedambaan yang merupakan obyek wisata andalan Kabupaten Kotabaru.
    Budaya lain yang terdapat disini adalah Mallassuang Manu. Jika Anda berkunjung ke Kotabaru, Kalimantan Selatan pada bulan Maret dan April anda dapat menyaksikan pesta adat yang unik dan mungkin hanya anda dapatkan di Kabupaten Kotabaru. Pesta Adat ini merupakan ritual khas kaum muda mudi suku Mandar yang berdomisili di Kecamatan Laut Selatan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
    Mallassuang Manu merupakan ritual adat yang melepas beberapa pasang ayam jantan dan betina sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mendapatkan jodoh. Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun yang selalu dilaksanakan di sebuah pulau kecil yang berdasar legenda masyarakat setempat berbentuk hati dan oleh masyarakat setempat dikenal dengan Pulau Cinta. Pulau ini berjarak berjarak sekitar dua mil dari Pulau Laut yang menjadi ibukota Kabupaten Kotabaru, dan Pulau Cinta ini memiliki luas sekitar 500 m2 dan hanya terdiri dari batu-batu besar dan sejumlah pohon di dalamnya.
    Awal prosesi upacara adat ini, para peserta berangkat secara bersama-sama dari Ibukota Kabupaten Kotabaru menuju Pulau Cinta dengan menggunakan perahu. Sesampainya di Pulau Cinta, pesta adat melepas sepasang ayam jantan dan betina dilaksanakan dengan disaksikan oleh ribuan penonton. Puncak ritual upacara adat ini adalah melepas ayam jantan dan betina, yang dilaksanakan di atas sebuah batu besar dengan bagian tengahnya terbelah sepanjang kira-kira 10 meter. Dari atas batu itulah sepasang ayam tersebut lepas dan dilemparkan sebagai pertanda permohonan kepada Tuhan agar dimudahkan dalam mencari dan mendapatkan jodoh.
      Setelah melepas sepasang ayam jantan dan betina, para peserta khusunya kaum muda-mudi kemudian mengikatkan pita atau tali yang di dalamnya sudah diisi batu ataupun sapu tangan di atas dahan maupun ranting pohon yang terdapat di Pulau Cinta. Ini dimaksudkan sebagai perlambang jika kelak mendapatkan jodoh yang kekal dan hanya maut yang memisahkan mereka.
      Dan jika sudah mendapatkan jodoh, orang yang pernah mengikatkan tali di pohon Pulau Cinta harus kembali ke Pulau Cinta untuk diambil kembali, dengan menggunakan perahu klotok yang dihias dengan kertas warna-warni. Dengan suguhan makanan khas yang selalu menjadi suguhannya adalah sanggar (semacam pisang goreng yang terbuat dari pisang kepok yang dibalut dengan tepung beras dan gandum dengan campuran gula dan garam), serta minuman berupa teh panas, akan menambah keunikan dari tradisi ini. Sedangkan prosesi upacara untuk pengambilan pita atau selendang yang diikatkan di pohon bagi yang sudah mendapatkan pasangan, akan diiringi oleh sanak saudara untuk mengadakan selamatan serta memanjatkan doa. Usai doa, mereka kemudian melepaskan pita atau tali rafia yang dulu diikatkan di dahan atau ranting pohon untuk disimpan sebagai bukti bahwa keinginannya telah terkabul.
      Disisi lain, ritual kedua mempunyai filosofi sebagai bentuk permohonan supaya dalam kehidupan selanjutnya selalu dibimbing menjadi keluarga yang sejahtera.
Daftar pustaka

http://m.wisatamelayu.com/id/tour/830-Upacara-Adat-Macceratasi/navgeo diakses pada tanggal 18 Maret 2014 jam 11.23

http://www.wisatanews.com/more.php?id=1201 diakses pada tanggal 18 Maret 2014 jam 11.23

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kotabaru diakses pada tanggal 18 Maret 2014 11.23

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :